Apakah Semua Ilmu Yang Kita Ketahui Harus Diamalkan?
Pernah suatu sore, Assyifa tanya sama "Fajar" saat ia memberi tahu, jika puasa itu, sahur dan berbukalah dengan kurma dan air putih. Insya Allah berkah. Lantas, assyifa bertanya padanya, memang selama ini fajar mengamalkannya kah?
Dan, Ia menjawab dengan senyum serta memberi ilmu berikut ๐
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apakah Semua Ilmu Yang Kita Ketahui Harus Diamalkan?
ุงุญูุงุก ุนููู ุงูุฏูู ูก / ูฅูจ
ููุงู ุฑุฌู ูุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ุฑุถู ุงููู ุนูู : ุฃุฑูุฏ ุฃู ุฃุชุนูู ุงูุนูู ูุฃุฎุงู ุฃู ุฃุถูุนู ، ููุงู : ููู ุจุชุฑู ุงูุนูู ุฅุถุงุนุฉ ูู
Ada seseorang berkata kepada sayyidina Abu Huroiroh, "Saya ingin belajar suatu ilmu tapi saya takut menyia-nyiakan ilmu." Kemudian sayyidina Abu Huroiroh berkata, "Dengan tidak mau belajar, maka itu berarti telah menyia-nyiakan ilmu."
Yang dimaksud menyia-nyiakan ilmu di sini adalah tidak mengamalkan ilmunya.
Lantas, apakah semua ilmu yang kita ketahui harus diamalkan semuanya?
Rosulullah ๏ทบ bersabda :
ุฃุดุฏ ุนุฐุงุจุง ููู ุงูููุงู ุฉ ุฃู ู ู ุงูู ุณูู ูู ุนุงูู ูุง ููุชูุน ุจุนูู ู
"Orang islam yang paling berat siksanya di hari Kiamat adalah orang alim yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya."
Imam Ibnu Ruslan di dalam nadzom Zubadnya mengatakan :
ูุนุงูู ุจุนูู ู ูู ูุนู ูู # ู ุนุฐุจ ู ู ูุจู ุนุจุงุฏ ุงููุซู
"Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum penyembah berhala disiksa."
ูุงุนู ู ููู ุจุงูุนุดุฑ ูุงูุฒูุงุฉ # ุชุฎุฑุฌ ุจููุฑ ุงูุนูู ู ู ุธูู ุงุช
"Maka amalkanlah ilmu itu meskipun hanya sepersepuluh dari ilmu yang kamu ketahui, karena dengan mengamalkannya maka sebab cahayanya ilmu, kamu akan keluar dari gelapnya kebodohan."
Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa alangkah lebih baik jika mengamalkan semua ilmu yang ia ketahui. Namun apabila tidak bisa, maka sebagiannya saja sehingga tergolong menjadi orang yang mengamalkan ilmunya.
Jika sudah mengetahui suatu ilmu dan tidak diamalkan, apakah boleh untuk diajarkan?
Al-Habib Abdullah al-Haddad di dalam kitabnya, ad-Da'wah at-Tammah, mengatakan :
ุงูุชุนููู ููุนูู ู ู ุฌู ูุฉ ุงูุนู ู ุจู، ูุงูุฐู ูุนّูู ููุง ูุนู ู ุจุนูู ู ุฎูุฑ ุจูุซูุฑ ู ู ุงูุฐู ูุง ูุนู ู ููุง ูุนِّูู ، ูุฅุฐุง ูู ุชูุฏุฑ ุนูู ุงูุฎูุฑ ููู ููุง ุชุนุฌุฒ ุนู ุงูููุงู ุจุจุนุถู.
"Mengajarkan ilmu adalah termasuk dari mengamalkannya. Orang yang mengajarkan ilmu dan tidak mengamalkannya itu masih lebih baik daripada orang yang tidak mengamalkan dan tidak pula mengajarkan ilmunya. Apabila kamu tidak bisa melaksanakan semua kebaikan maka jangan sampai kamu tidak bisa melaksanakan sebagiannya."
Dari keterangan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa lebih baik mengajarkan ilmu yang kita ketahui meskipun kita belum mengamalkannya, karena dengan tidak mengajarkan ilmu itu berarti telah menyia-nyiakan ilmu itu sendiri dan akan menyebabkan hilangnya ilmu.
Oleh karena itu kita tidak boleh terbujuk dengan ocehan orang lain yang mereka itu tidak mau mengajarkan ilmunya karena belum mengamalkannya karena takut dengan siksaan yang teramat pedih di hari Kiamat kelak, karena orang yang mengajarkan ilmunya meskipun tidak mengamalkannya itu masih lebih baik daripada menyimpan ilmunya dan tidak mengamalkannya sebagaimana penjelasan al-Habib Abdullah al-Haddad di atas.
Apakah boleh belajar ilmu kepada orang yang tidak mengamalkannya?
Imam Badruddin al-'Aini di dalam kitabnya, Umdatul Qori Syarh Sohih Bukhori, ketika menjelaskan tentang haditsnya sahabat Abu Huroiroh ketika diperintahkan menjaga harta zakat oleh Kanjeng Nabi ๏ทบ, beliau mengatakan :
ูููู : ุฌูุงุฒ ุชุนูู ุงูุนูู ู ู ู ูู ูุนู ู ุจุนูู ู
"Berdasarkan hadit tersebut, diperbolehkan belajar ilmu kepada orang yang tidak mengamalkan ilmunya."
Wallahu a'lam.
Besuk, 23 Jumada Tsaniyah, 1439 H.
Sumber : https://www.ngaji9.com/2018/01/apakah-semua-ilmu-yang-kita-ketahui.html?m=1
Hehe, begitulah, Fajar, Jika saya bertanya, maka Ia tidak akan asal menjawab tanpa bekal ilmu yang Ia punya. Terlebih dahulu, Ia akan belajar mencari tahu baru kemudian Ia share pada saya. Semoga bermanfaat untuk sobat blogeer, bismillah ๐
Dan, Ia menjawab dengan senyum serta memberi ilmu berikut ๐
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apakah Semua Ilmu Yang Kita Ketahui Harus Diamalkan?
ุงุญูุงุก ุนููู ุงูุฏูู ูก / ูฅูจ
ููุงู ุฑุฌู ูุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ุฑุถู ุงููู ุนูู : ุฃุฑูุฏ ุฃู ุฃุชุนูู ุงูุนูู ูุฃุฎุงู ุฃู ุฃุถูุนู ، ููุงู : ููู ุจุชุฑู ุงูุนูู ุฅุถุงุนุฉ ูู
Ada seseorang berkata kepada sayyidina Abu Huroiroh, "Saya ingin belajar suatu ilmu tapi saya takut menyia-nyiakan ilmu." Kemudian sayyidina Abu Huroiroh berkata, "Dengan tidak mau belajar, maka itu berarti telah menyia-nyiakan ilmu."
Yang dimaksud menyia-nyiakan ilmu di sini adalah tidak mengamalkan ilmunya.
Lantas, apakah semua ilmu yang kita ketahui harus diamalkan semuanya?
Rosulullah ๏ทบ bersabda :
ุฃุดุฏ ุนุฐุงุจุง ููู ุงูููุงู ุฉ ุฃู ู ู ุงูู ุณูู ูู ุนุงูู ูุง ููุชูุน ุจุนูู ู
"Orang islam yang paling berat siksanya di hari Kiamat adalah orang alim yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya."
Imam Ibnu Ruslan di dalam nadzom Zubadnya mengatakan :
ูุนุงูู ุจุนูู ู ูู ูุนู ูู # ู ุนุฐุจ ู ู ูุจู ุนุจุงุฏ ุงููุซู
"Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum penyembah berhala disiksa."
ูุงุนู ู ููู ุจุงูุนุดุฑ ูุงูุฒูุงุฉ # ุชุฎุฑุฌ ุจููุฑ ุงูุนูู ู ู ุธูู ุงุช
"Maka amalkanlah ilmu itu meskipun hanya sepersepuluh dari ilmu yang kamu ketahui, karena dengan mengamalkannya maka sebab cahayanya ilmu, kamu akan keluar dari gelapnya kebodohan."
Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa alangkah lebih baik jika mengamalkan semua ilmu yang ia ketahui. Namun apabila tidak bisa, maka sebagiannya saja sehingga tergolong menjadi orang yang mengamalkan ilmunya.
Jika sudah mengetahui suatu ilmu dan tidak diamalkan, apakah boleh untuk diajarkan?
Al-Habib Abdullah al-Haddad di dalam kitabnya, ad-Da'wah at-Tammah, mengatakan :
ุงูุชุนููู ููุนูู ู ู ุฌู ูุฉ ุงูุนู ู ุจู، ูุงูุฐู ูุนّูู ููุง ูุนู ู ุจุนูู ู ุฎูุฑ ุจูุซูุฑ ู ู ุงูุฐู ูุง ูุนู ู ููุง ูุนِّูู ، ูุฅุฐุง ูู ุชูุฏุฑ ุนูู ุงูุฎูุฑ ููู ููุง ุชุนุฌุฒ ุนู ุงูููุงู ุจุจุนุถู.
"Mengajarkan ilmu adalah termasuk dari mengamalkannya. Orang yang mengajarkan ilmu dan tidak mengamalkannya itu masih lebih baik daripada orang yang tidak mengamalkan dan tidak pula mengajarkan ilmunya. Apabila kamu tidak bisa melaksanakan semua kebaikan maka jangan sampai kamu tidak bisa melaksanakan sebagiannya."
Dari keterangan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa lebih baik mengajarkan ilmu yang kita ketahui meskipun kita belum mengamalkannya, karena dengan tidak mengajarkan ilmu itu berarti telah menyia-nyiakan ilmu itu sendiri dan akan menyebabkan hilangnya ilmu.
Oleh karena itu kita tidak boleh terbujuk dengan ocehan orang lain yang mereka itu tidak mau mengajarkan ilmunya karena belum mengamalkannya karena takut dengan siksaan yang teramat pedih di hari Kiamat kelak, karena orang yang mengajarkan ilmunya meskipun tidak mengamalkannya itu masih lebih baik daripada menyimpan ilmunya dan tidak mengamalkannya sebagaimana penjelasan al-Habib Abdullah al-Haddad di atas.
Apakah boleh belajar ilmu kepada orang yang tidak mengamalkannya?
Imam Badruddin al-'Aini di dalam kitabnya, Umdatul Qori Syarh Sohih Bukhori, ketika menjelaskan tentang haditsnya sahabat Abu Huroiroh ketika diperintahkan menjaga harta zakat oleh Kanjeng Nabi ๏ทบ, beliau mengatakan :
ูููู : ุฌูุงุฒ ุชุนูู ุงูุนูู ู ู ู ูู ูุนู ู ุจุนูู ู
"Berdasarkan hadit tersebut, diperbolehkan belajar ilmu kepada orang yang tidak mengamalkan ilmunya."
Wallahu a'lam.
Besuk, 23 Jumada Tsaniyah, 1439 H.
Sumber : https://www.ngaji9.com/2018/01/apakah-semua-ilmu-yang-kita-ketahui.html?m=1
Hehe, begitulah, Fajar, Jika saya bertanya, maka Ia tidak akan asal menjawab tanpa bekal ilmu yang Ia punya. Terlebih dahulu, Ia akan belajar mencari tahu baru kemudian Ia share pada saya. Semoga bermanfaat untuk sobat blogeer, bismillah ๐
Komentar
Posting Komentar